Friday, February 14, 2014

Perempuanku

Puan,
Percayalah, kita bukan satu-satu-nya yang menggadaikan waktu dan jarak demi keyakinan.
kita hanya salah dua nya.

Kita berani menantang jarak dan mereka yang berkata ini akan sia-sia.
Ingat puan, kita tidak berdansa dibawah ketukan yang orang lain mainkan, kita adalah kita yang bergoyang ria dibawah ritme kita sendiri.

Hari-hari kita bergelut rindu, menanti pulang peluk kecut tiba.
Bagi kita, surat elektronik adalah sarapan paling lezat, alunan suara di telepon genggam adalah nikmat makan siang, canggih audio visual adalah yang mengenyangkan di malam hari.
Dan bahagia ketika berjumpa yang luar biasa. Sesederhana itu.

Kita tak selalu bersahut kata sambil bertatap muka, menceritakan hari-hari dengan cara yang berbeda dari mereka. Kita tetap senang, bukan begitu sayang?

Puan,
Aku segera pulang, merekahkan cumbu-cumbu sederhana, menghabiskan minggu pagi ditaman senang, secangkir teh hangat dan roti isi kacang, seperti biasa kita.
Kita legalisasikan manja, berpeluk ria dalam tawa dimuka dunia, lagi-lagi persetan mereka yang banyak kata. Ini bahagia aku dan kamu, bukan mereka.

Dan terimakasih untuk bertahan dari aku yang semenyebalkan ini, dari aku yang masih betah dengan ego penghujung muda dan bahayaku, dan dari aku dengan sisa-sisa nakalku. Sebentar lagi sayang, sebentar lagi.

Puan,
Suatu hari nanti aku akan bersimpuh satu shaf didepanmu, dan kamu yang bersiap mencium tanganku dengan doa. Mensahihkan kita tak hanya kata.

Dan teruntuk Tuhan, jika merindukannya adalah dosa, lagi-lagi aku siap masuk neraka.


Karya Ronanda Utama